TANGERANG SELATAN — Koperasi Pemulung Berdaya di Cipeucang, Tangerang Selatan, terus menjadi penopang ekonomi bagi ribuan pemulung yang tersebar di wilayah Jabodetabek hingga Pulau Seribu. Sejak berdiri sebagai unit daur ulang program CSR pada 2010, koperasi ini berkembang pesat dan resmi beroperasi independen sebagai koperasi pada 2013.
Selain itu, koperasi ini menghimpun botol plastik PET dari ratusan lapak pemulung lalu mengolahnya menjadi cacahan plastik. Selanjutnya, cacahan tersebut dikirim ke pabrik daur ulang di wilayah Tangerang.
Baca juga: Disiram Cairan Pembersih Lantai
Jaringan Pemulung yang Luas dan Terstruktur
Sekretaris Koperasi Pemulung Berdaya, Julaeha (35), menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan 300 hingga 400 lapak pemulung meskipun anggota resminya hanya berjumlah 53 orang. Setiap lapak rata-rata menaungi 10 pemulung, sehingga totalnya mencapai sekitar 4.000 pekerja.
“Kalau dijumlahkan, sekitar 4.000 pemulung yang hidupnya tersambung ke koperasi ini,” kata Julaeha.
Menurutnya, para pemulung menjual hasil kumpulan botol PET ke lapak-lapak terdekat. Lapak kemudian memasoknya ke koperasi dengan harga yang sama sehingga rantai distribusi tetap stabil dan berkelanjutan.
Proses Pengumpulan dan Harga Jual Botol PET
Setiap pemulung mengumpulkan botol PET dari aktivitas harian mereka. Kadang mereka memilih menampung koleksi botol terlebih dahulu hingga mencapai 10 kilogram sebelum diserahkan ke lapak. Harga jual PET saat ini berada di kisaran Rp 5.000 per kilogram.
“Pemulung yang jalan kaki biasanya dapat 1 sampai 3 kilo per hari. Yang pakai gerobak bisa sampai 10 kilo sekali setor,” jelas Julaeha.
Sistem ini telah dilakukan bertahun-tahun. Dengan demikian, alur produksi koperasi terus meningkat dan mampu memberikan pendapatan yang lebih stabil bagi pemulung.
Produksi Cacahan Plastik Terus Meningkat
Sejak awal berdiri, kapasitas produksi Koperasi Pemulung Berdaya meningkat signifikan. Pada tahun-tahun pertama, koperasi hanya mampu menggiling sekitar 5 ton plastik PET per bulan. Kini, kapasitasnya telah melonjak hingga mencapai 150 ton per bulan.
Baca juga: OASA Pastikan Kapasitas 1.100 Ton Sampah per Hari
“Sehari kita bisa giling 5 sampai 6 ton menjadi cacahan plastik. Kemudian hasil cacahannya dikirim ke pabrik biji plastik di Tangerang setiap dua hari sekali,” ujar Julaeha.
Menurut dia, peningkatan kapasitas produksi ini membuktikan bahwa koperasi telah berhasil menjadi pusat pengolahan yang konsisten dan dipercaya oleh para lapak pemulung.
Dampak Ekonomi yang Nyata bagi Para Pemulung
Lebih jauh, Julaeha menegaskan bahwa keberadaan Koperasi Pemulung Berdaya memberikan dampak ekonomi yang besar. Banyak pemulung maupun pekerja harian yang terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari penyortiran hingga penggilingan plastik.
Tidak hanya itu, hasil pendapatan dari pekerjaan ini turut mengubah kehidupan banyak keluarga. “Bahkan, banyak pemulung yang mampu menyekolahkan anak mereka sampai sarjana,” katanya.
Melalui koperasi ini, para pemulung memiliki akses pendapatan yang lebih layak, lebih pasti, dan lebih berkelanjutan. Dengan demikian, koperasi ini tidak hanya berperan sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.











